HUT Kampar ke-76, Abdul Latif Hasyim Soroti Daya Beli Menurun dan Kebocoran Ekonomi Daerah
Redaksi - Kampar
Kamis, 05 Feb 2026 19:26 WIB
KAMPAR (SN) — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Kampar ke-76 menjadi momentum refleksi bagi berbagai kalangan. Tokoh pendidikan sekaligus sejarawan Kampar, Dr. HC Abdul Latif Hasyim, MM Dt Bagindo, menilai Kabupaten Kampar masih menghadapi sejumlah persoalan mendasar, terutama di bidang ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Dalam keterangannya sempena HUT Kampar ke-76 yang diperingati pada 6 Februari, Abdul Latif menyebutkan bahwa meskipun kondisi daerah relatif aman dan kondusif, harapan masyarakat belum sepenuhnya terwujud.
“Kalau dilihat dari kacamata tokoh masyarakat, Kampar memang dalam kondisi aman dan kondusif. Namun, harapan masyarakat belum seperti yang diinginkan, bahkan mungkin belum seperti yang diharapkan oleh pimpinan daerah sendiri,” ujar Abdul Latif, Kamis (5/2/2026).
Ia mengungkapkan, banyak keluhan masyarakat yang berkaitan dengan persoalan ekonomi sehari-hari, mulai dari pemasukan rumah tangga hingga menurunnya daya beli. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat dilihat secara nyata di pasar-pasar tradisional.
“Kita lihat banyak pedagang, terutama ibu-ibu penjual sayur, dagangannya tidak habis. Ini menandakan daya beli masyarakat sedang menurun,” katanya.
Selain itu, Abdul Latif juga menyoroti terjadinya kebocoran ekonomi daerah akibat perputaran uang yang tidak berlangsung di Kampar. Menurutnya, banyak pejabat maupun pengusaha yang memperoleh penghasilan di Kampar, namun justru membelanjakan uangnya di daerah lain, terutama Kota Pekanbaru.
“Uang dikumpulkan di Bangkinang, tetapi dibelanjakan ke Pekanbaru. Akibatnya, perputaran ekonomi tidak terjadi di Kampar dan UMKM kita yang dirugikan,” jelasnya.
Ia juga menyinggung penurunan kesejahteraan aparatur sipil negara, khususnya tenaga PPPK dan guru, seiring dengan berkurangnya Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP).
“Ada informasi TPP PPPK yang sebelumnya sekitar Rp850 ribu kini turun menjadi Rp300 ribu. Walaupun ini mungkin kebijakan pusat dan kita belum mengetahui detailnya, dampaknya tetap dirasakan, terutama oleh para guru,” ujarnya.
Abdul Latif berharap pemerintah daerah ke depan dapat melakukan perbaikan kebijakan yang lebih berpihak kepada masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan dan menjaga agar perputaran ekonomi tetap berada di Kabupaten Kampar.
Ia juga menekankan pentingnya keberanian pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan strategis guna mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Salah satunya dengan menghidupkan kembali agenda Pekan Budaya Kampar yang pernah digelar di masa lalu.
“Pekan Budaya Kampar dulu menjadi contoh bagi kabupaten bahkan provinsi lain. Sayangnya, kegiatan ini kemudian dihilangkan, padahal dampaknya sangat besar bagi perekonomian masyarakat,” tuturnya.
Di usia ke-76 tahun, Abdul Latif berharap Kabupaten Kampar mampu berbenah dan menghadirkan kebijakan yang benar-benar berpihak pada kepentingan masyarakat luas. (Ilh)